Tapakbatas.com- Eskalasi dampak karhutla di Kalimantan Tengah kembali memburuk dalam tiga hari terakhir.
Kabut asap tebal yang mulai menguningkan langit Palangka Raya sejak Rabu (14/10/2026) mencapai puncaknya pada Jumat (16/10/2026), saat warna langit berubah menjadi oranye pekat bak film kiamat.
Konsentrasi partikel polutan di udara membuat intensitas cahaya matahari berkurang drastis di area perkotaan.
Akibatnya, jarak pandang menyempit dan bangunan di kejauhan tampak samar tertutup kabut.
Pemandangan tidak biasa ini mendadak ramai diabadikan warga melalui rekaman ponsel dan unggahan di media sosial.
Salah seorang warga lokal mengabadikan potret visual kondisi tersebut dengan nada khawatir.
“Ini bukan efek, ini bukan filter, atau bahkan cerita film kiamat. Tapi ini keadaan Kalimantan Tengah hari ini di Kota Palangka Raya, benar-benar kacau dan seram,” tulisnya.
Rasa prihatin juga diungkapkan warga lain yang membagikan momen perubahan warna langit tersebut dari balik layar ponselnya.
Menurutnya, laju perburukan kondisi udara yang berlangsung relatif cepat memicu rasa cemas.
“Palangka Raya hari ini semakin mengerikan. Langit yang sebelumnya menguning kini berubah oranye pekat kemerahan, bikin merinding,” ungkap warganet tersebut.
Kondisi visual yang mengkhawatirkan ini sejalan dengan data pengukuran kualitas udara.
Pemantauan platform IQAir mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) Palangka Raya melambung tinggi hingga angka 659 pada pukul 01.00 WIB, berada di level Berbahaya.
Tak hanya itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 terukur menembus 405,3 mikrogram per meter kubik.
Angka ini melonjak tajam melampaui ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ukurannya yang amat kecil membuat PM2.5 berisiko masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Paparan langsung kondisi ini berpotensi memicu iritasi mata, tenggorokan, batuk, hingga memperburuk gangguan pernapasan akut.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diimbau lebih mewaspadai kondisi ini.
Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela rumah, serta mengenakan masker yang sesuai saat terpaksa berpergian.
Kondisi kabut asap di Palangka Raya ini membutuhkan langkah penanganan yang konkret dari pihak terkait.
Pemantauan berkala dan upaya pencegahan titik api di lapangan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kesehatan masyarakat.
Pemandangan ekstrem ini bahkan turut menarik perhatian media internasional.
Sejumlah portal berita asing memuat kondisi langit Palangka Raya, menyoroti parahnya krisis kualitas udara akibat karhutla yang melanda kawasan tersebut.
Editor : Darwis













